Oleh: Miduk Hutabarat*
Selasa, 19 Juni 2012 di ruang FISIP Universitas Sumatra Utara/USU
berlangsung acara bedah buku berjudul; Kota-Kota di Sumatra. Hadir para
penulisnya dan para akademisi FISIF USU mengulas latar belakang, maksud
dan tujuan dari penulisan. Membuat kita menjadi berposisi dalam melihat
bobot dan akurasi dari isi buku itu.
Setelah membacanya,
mendorong penulis untuk membuat esai ini dan memperkayanya dari bacaan
"Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia". Seorang pejuang,
pemikir dan penggelar Indonesia Merdeka serta pelaku sejarah yang
dilupakan oleh negeri yang diperjuangkannya. Ditulis oleh Harry A.
Poeze, seorang peneliti di KITLV Belanda dan buku Menuju Sejarah
Sumatra.Mengutip dari buku ini, tentang propetis Tan Malaka, pada saat berlangsungnya pertemuan Jong Sumatranen Bond/JBS, mengatakan; "Maluku masa lalu, Jawa masa kini dan Sumatra masa depan" 1926-1943. Apa artinya?
Sekilas kalau kita mencermati tentang perkembangan Sumatra sepuluh tahun terakhir, tepatnya setelah Reformasi 1998 dan Tsunami 2004. Nampaknya bandul sejarah kembali berulang. Dengan penggerak berbeda. Kalau dulu penggeraknya oleh sekelompok petualangan dan para pencari rempah-rempah. Sekarang oleh bencana alam dengan passion kemanusiaan. Sekalipun tetap perlu dicermati, apakah passion ini tidak lepas dari spirit neolibnya.
Membaca sejarah Traktat London (1824) dan Traktat Siak (1834), ketika T.S Raffles masih tetap berdiam di Bengkulen untuk melaksanakan ambisinya menyusun The History of Sumatra. Walau tidak rampung, justru Wiliam Marsden yang menulis Histrory Of Sumatra ( 1873). Inggris pun harus mengeluarkan Traktat Sumatra 1854, untuk memaksanya hengkang dari Bengkulen (Sumatra) dan pindah ke Singapore dan menyerahkan Sumatra kepada Belanda. Walau secara de facto, Belanda masih kerja keras untuk menaklukkan Aceh dan Batak yang belum dikuasai. Membuat perang Batak berlangsung (1877-1907), dipimpin Sisingamangaradja. Perang Aceh (1873-1903), di pimpin Teuku Umar, Cik Di Tiro, Cuk Nyak Dien dan tokoh lainnya.
Artinya, kedua kisah tersebut, tutur mempengaruhi era baru di Sumatra dalam memasuki Modernisasi pada awal abad ke 20. Berlanjut masa awal dan paska kemerdekaan 1943-1945.
Kisah Warga di Kota-Kota Sumatra
Dengan latarbelakang yang jamak, ternyata tujuan dari penulisan buku Kota-Kota di Sumatra, Interkoneksi foundation (baca; IF) bermaksud untuk merintis sebuah proyek raksasa untuk melahirkan generasi muda untuk menjadi Indonesianis di negeri sendiri. Sebuah misi suci yang patut di apresiasi, tentang dedikasi para pendiri lembaga tersebut. Selama ini terjadi, lukisan sejarah Indonesia hanya menjadi fiksinya para Peneliti asing saja.
Kembali menguji propetisnya Tan Malaka yang menginstitusi di JBS. Benarkah bahwa fajar baru sedang merekah di Sumatra? Lewat cases study Kota-Kota Sumatra setelah era reformasi, oleh tim Peneliti IF dalam buku ini, khusus mengenai kewarganegaraan dan demokrasi di enam kota. Antara lain; Jambi-Kerinci di Batanghari Provinsi Jambi. Kota Bukittinggi di Sumatra Barat. Kota Prabumulih di Sumatera Selatan. Bagansiapiapi Kabupaten Rokan Hilir di Provinsi Riau. Kota Binjai di Sumatra Utara serta Kota Sigli dan Beureuweh di Pidie provinsi Aceh.
Menurut para penulis, potret kewarganegaraan dan eporia demokrasi paska otonomi sudah sangat mengkuatirkan. Karena telah membuat carut marutnya proses ke-Indonesiaan. Ditandai oleh berbagai kasus yang terjadi, antara lain; persoalan putra daerah yang telah mengentalkan politik identitas di berbagai daerah. Perda-perda berbasis syariah dan berbasis masyarakat adat telah mengundang persoalan baru bagi warga kota khususnya di ruang publik. Karena hukum positif yang sudah berjalan nasional kini ditimpali dengan hukum positif lainnya. Membuat semakin panjangnya mata rantai penyelesaian hukum.
Adalagi satu kisah menarik di Bukittinggi. Ketika ada seorang suku Batak meninggal, menjadi persoalan karena tidak boleh dikuburkan di sana. Masyarakat setempat menyarankan supaya mayat tersebut di bawa saja kembali ke asalnya. Membuat orang Batak bangkit dan menantang mereka. Lalu mengatakan; "Jika begitu halnya, supaya orang Padang di Sumut melakukan hal yang sama.
Ditambah kisah lainnya, tentang pameo di masyarakat yang mengamini, sebuah kota, baru bisa berkembang kalau ada etnis Tionghowanya. Ternyata dari penellitian yang dilakukan, hal itu tidak terbukti di Sigli dan Beureunuen Kabupaten Pidie provinsi Aceh. Perdagangan telah berlangsung sejak tahun1970-an, tanpa adanya sentuhan etnis Tionghowa di sana. Begitulah sekilas tentang pernak pernik yang dikisahkan di dalam buku tersebut tentang tentang proyek ke-Indonesiaan yang hingga kini belum selesai.
Era dan Fajar baru Kota-kota di Sumatera
Kembali kepada propetisnya Tan Malaka. Apakah perubahan itu kebetulan saja sifatnya atau sebuah keniscayaan sejarah?
Menyimak dari pembelahan wilayah yang terjadi saat ini, buku tersebut mencatat; pada Tahun 1961, Kabupaten/Kota di Sumatra berjumlah 47, dan Tahun 1995 berjumlah 52, kemudian melompat lebih dua kali lipat pada Tahun 2009, menjadi 116. Artinya jumlah Kabupaten/Kota di Sumatra sekarang sama dengan di Jawa. Padahal jumlah penduduk Sumatra hanya 21% dari seluruh penduduk di Indonesia. Dari lima pulau terbesar, Sumatra yang paling banyak membelah/pemekaran. Tidak dalam hal itu saja, bahkan Anthony Reid mencatat, baik sebelum era kemerdekaan dan setelah era kemerdekaan Sumatra pemasok ekspor terbesar Indonesia. Antara lain, kemenyan, kapur barus, gambir, lada, karet, kelapa sawit dan emas.
Sumatra Barat saat ini, satu-satunya di Sumatra yang memiliki event international yang sukses bernama Tour De Singkarak dan kota Solok sebagai kota yang mendapat penghargaan nasional dalam tata kelolanya.
Bagaimana dengan Sumatera Utara, khususnya setelah seluruh teritori Tapanuli ditaklukkan tahun 1906? Pangkalan Susu merupakan eksplorasi minyak pertama di Indonesia sejak 1870-an. Areal perkebunan terbesar sejak dibukanya secara masif perkebunan Sumatra Timur (1870-an) dan perkeretapian perdana (1900-an) di Indonesia dan Medan menjadi pusat perdagangan yang paling ramai di pantai Timur Sumatra dan Sumatra dipicu penyatuan daerah Tapanuli, Aceh dan pantai Timur Sumatra menjadi satu (1957).
Kini, angka pertumbuhan ekonomi Sumut (6,5%) berada di atas angka pertumbuhan Nasional (6,3%). Beberapa mega-proyek seperti; PT INALUM, perusahaan peleburan alunium di Asia bersama China. PT Toba Pulp Indah Lestari, perusahan kertas lima besar dunia dan eksplorasi emas Batangtoru serta penghasil CPO terbesar. Beberapa proyek sedang dirancang seperti; KSN Danau Toba, sebagai tujuan wisata nusantara dan mancanegara. Pembangunan KEK Sei Mengkei dan pelabuhan Kuala Tanjung akan menjadi pelabuhan terbesar di Indonesia.
Menurut penulis, justru menjadi bahan renungan kita bersama; apakah benar fajar baru Indonesia sedang merekah di Pantai Timur Sumatra sebagai gerbang Sumatra-Indonesai sejak tahun 1960-an. Megingat banyaknya kendala realisasi megaproyek di Sumut, lantas kita bertanya; ada apa dengan Masyarakat Sumut?
*Penulis adalah Arsitek dan Pegiat Budaya di Komunitas Taman dan Komunitas Bumi
Sumber: Analisa Minggu, 26 Agustus 2012 (www.analisadaily.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar