Memang benar,
ada banyak novel fantasi yang kini hadir dalam khazanah fiksi di Indonesia.
Mulai dari karya terjemahan seperti Harry
Potter, Narnia, Lord Of The Rings, sampai karya-karya
penulis dalam negeri, seperti Cincin Odeleodeo
(Vani Diana), Enthirea: Pertempuran Dua
Dunia (Aulya Elyasa), Garuda 5: Utusan Iblis (F.A. Purawan), Istana Negeri Laut (Fahri Asiza), Misteri Pedang Skinheald: Sang Pembuka Segel (A.
Ataka Awwalur Rizki), Valharald
(Adi Toha), dan masih banyak lainnya.
Lantas, di kota Medan
sendiri bagaimana? Ya, agaknya baru Gethora-lah
yang memulainya. Novel fantasi karya Omadi Pamouz, salah seorang anggota
Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Medan, ini seakan mencoba menggebrak dunia kepenulisan di kota Medan.
Meski novelnya ini, menurut Hasan Al-Banna, agak melelahkan, namun menyenangkan.
Karena ia berkelindan dengan imajinasi yang unik.
Gethora memang bukanlah satu-satunya
karya anak Medan.
Sebelumnya ada Cewek Matre (Sandi
Situmorang), Metamorfosis Gendis (Butet
Benny Manurung), dan Selamat Tinggal Ca (Onet
Aditya Rizlan). Bahkan ada Acek Botak
karya Idris Pasaribu. Ini belum lagi ditambah dengan beberapa antologi Rebana Analisa Medan, Ini Medan Bung (2010), Akulah Medan (2010), dan beberapa
kumpulan cerpen karya aktivis Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Medan lainnya. Tapi
demikianlah, untuk genre novel fantasi di kota Medan, jelas, baru Gethora-lah satu-satunya.
Soal novel ini bakal bertabur apresiasi atau tidak oleh masyarakat pembacanya tentulah waktu yang menentukan. Sebab tiap buku punya “rezeki”nya masing-masing. Pinomat, hadirnya novel Gethora ini, termasuk karya para penulis Medan lainnya itu, dapatlah menjadi pendobrak seni dan budaya kota Medan yang kini terpasung dalam kelesuan, seolah mati suri.
Jadi, bedah
novel Gethora yang diadakan di
Ballroom Garuda Plaza Hotel, 21 Agustus 2010 lalu, itu pun hendaknya mampulah menjadi
letupan ide bagi elan seni dan budaya di kota Medan. Dan antusiasnya para
penikmat buku dalam bedah novel itu tentu harus diapresiasi lebih lanjut. Yakni
dengan menggairahkan minat baca dan menulis serta penerbitan-penerbitan novel
atau karya sastra anak Medan lainnya. Karena tanpa minat baca, minat menulis, dan
penerbitan buku, mustahillah kita dapat menciptakan kota
Medan yang
berseni dan berbudaya.
Sebagai kritik, bedah novel tentu
merupakan bagian dari tradisi kritik terapan (practical criticism). Tidak secara ilmiah memang, namun cukuplah
menjadi acuan dalam hal pembicaraan karya sastra. Makanya, acara bedah novel seperti
bedah novel Gethora itu mudah-mudahan
dapatlah menjadi tradisi bagi tumbuh-kembangnya kritik sastra, ataupun kritik karya
nonfiksi lainnya.
Untuk itu, apa yang telah dilakukan KSI Medan (sebagai panitia bedah
novel Gethora) ini kiranya dapatlah
memotivasi dunia kepenulisan di kota Medan. Serta mampu
menciptakan semangat menulis dengan saling dukung antarkomunitas penulis lainnya.
Mengutip Antilan Purba, ketika kampus sedang lesu dalam pengajaran sastra, maka
komunitas berperan penting untuk menggairahkannya. Jadi tak berlebihan kalau
KSI Medan, termasuk komunitas penulis lainnya itu, mencoba untuk menjembatani
kegairahan itu.
Dengan begitu, bukan mustahil kalau suatu saat dunia seni dan budaya
di kota Medan akan
bangkit, mengingat kota Medan pernah melahirkan pengarang-pengarang
besar, bahkan konon pernah jadi kiblat sastra nasional. Seperti kata Gethora, “Carilah aku di dalam ingatan yang terpendam.” Demikianlah kita mencari
kembali semangat kreativitas tersebut. Katakanlah mengais kisah gairah sastra
tahun 50-an. Lantas dari semangat yang terpendam di alam bawah sadar tadi, marilah
kita bangkitkan imajinasi kita agar dunia kepenulisan di kota Medan menjadi
lebih kreatif lagi.
Kira-kira demikianlah peran KSI Medan yang senantiasa men-support anggota komunitasnya untuk
meluncurkan suatu karya. Ketua Umum KSI Pusat Ahmadun Yosi Herfanda dalam pesannya
yang disampaikan Idris Pasaribu (Ketua KSI Medan) juga mengingatkan, supaya KSI
Medan dapat menjadi contoh bagi KSI-KSI di daerah lainnya. Ya, salah satunya
adalah dengan mengadakan bedah novel Gethora
tadi.
Acara yang disponsori oleh Hendra Arbie, SE ini tentunya sangat
menarik dan semoga mampu memotivasi para penulis Medan lainnya. Apalagi seperti yang pernah diungkapkan
koran.kompas.com (2/6/2010), Hendra
Arbie, SE siap untuk mendukung segala kegiatan penerbitan karya sastra di kota Medan.
Nah, ibarat mantra, dukungan ini bagaikan (mantra moksa) pembebas bagi kreativitas
para penulis di kota Medan.
Tentu tak lupa pula dukungan Leutika,
Yogyakarta (sebagai penerbit Gethora), PBLT-BIMA (dr. Valentino Tarigan), dan Youngs Magazine (Harun Lubis) yang
membuat acara bedah novel ini menjadi kian menarik. Dalam paparannya, sebagai
salah satu pembicara, Harun Lubis bahkan juga berharap kalau Gethora ini punya peluang untuk diterima
masyarakat kota Medan. Terutama kalau dicermati lewat tren pasar yang ada.
Akhirnya, sekilas tentang Gethora
Adalah Gethora, seorang
penguasa mantra yang riwayatnya telah dilupakan oleh bangsa Balsard sebelum
perang Thorbeth. Dan semakin terlupakan setelah perang berlangsung, karena
manuskrip yang menceritakan tentang riwayatnya musnah. Gethora menampakkan diri
dalam penglihatan seorang penyihir yang sekarat. Dalam penampakan itu, Gethora
menyebutkan tanda-tanda kedatangannya yang akan menghapus kedukaan alam dari
lingkar ketakutan.
“Kabarkan pada kegelapan, kala purnama
sempurnakan seratus. Aku akan datang pada kehampaan getaran tak bernada,
menghapuskan kedukaan alam dari lingkar ketakutan. Carilah aku di dalam ingatan
yang terpendam.” (hal.5-6). Demikian Gethora
memperkenalkan dirinya.
Lewat setting “dunia asing” hutan
belantara, pembaca sebenarnya justru diajak untuk mencoba memahami Gethora dalam dunia yang tidak asing
sama sekali, yakni dunia bawah sadar manusia itu sendiri. Dalam perspektif
Hindu, pikiran
dan perasaan dihitung sebagai getaran tanpa suara, yang dalam hal ini terwujud
dalam mantra. Nah, bandingkan dengan ungkapan Omadi dalam Gethora-nya: “kehampaan getaran tak bernada.”
Dalam bahasa sanskerta, mantra adalah instrumen
pikiran manusia. Artinya, getaran primordial (alias mantra tadi) yang diungkap
Omadi dalam Gethora-nya ini boleh
jadi akan lebih menarik kalau dikaji secara lebih serius lagi. Bisa lewat teori
alam bawah sadarnya Freud atau studi mimpinya Carl Gustav Jung. Hal ini tentu
untuk menyelami karakter Gethora itu
sendiri.
Ya, sebenarnya kajian semacam ini juga
pernah dipakai untuk membicarakan khazanah mantranya JK Rowling. Seperti mantra
Avada Kedavra, Alohomora, atau Expelliarmus (sebagai misal) yang digunakan
JK Rowling dalam novel Harry Potter-nya
tersebut. Tentu
kemungkinan itu bisa saja terjadi pada Gethora.
Karena itu, mungkin tak berlebihanlah
kalau Omadi (termasuk novelis-novelis fantasi lainnya) dapat diklasifikasikan
sebagai novelis simbolis, tentu dengan gayanya masing-masing, yang unik dan
energik. Lantas dengan imajinasinya yang liar itu pun semoga akan lahirlah karya-karya
Omadi lainnya lewat bahasa yang lebih cerdas lagi.
Tambahan lagi setting Danau Toba-nya. Nah, mungkin ini bisa jadi ciri khas Omadi dalam
memadukan dunia fantasinya yang liar itu ke dalam wacana kearifan lokal,
khususnya Danau Toba (baca: Tanah Batak). Sehingga boleh jadi akan lahir sekuel
Gethora dengan judul Gethora Samouzir, seperti yang diungkapkan penyair Idris
Pasaribu itu. Ya, bukankah Danau Toba penuh misteri, bahkan Samosir ladang
fantasi? Namun demikian, mengutip komentar Hafiz Taadi, biarlah Gethora menjadi
Gethora, dan bicara tentang Gethora-nya sendiri. Sebagai penikmat, kita tunggu saja
karya Omadi berikutnya.
***
KSI-Medan, 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar