Oleh: Juhendri
Chaniago
Judul : Jejak Tinju Pak Kiai
Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tahun: III, November 2008
Tebal: xvi + 240 halaman
Harga: Rp 45.000,-
Mengutip pendapat Ary Ginanjar Agustian, pendiri konsep ESQ itu, bahwa Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun adalah seorang pemikir yang melihat dunia dengan kejernihan mata hati, berbicara melalui lidah hati dan mendengar suara alam yang berbunyi. Sehingga ia menjuluki Cak Nun ini sebagai “Si Matahari Pagi”.
Maka demikian pulalah kesan yang muncul saat kita membaca
buku Jejak Tinju Pak Kiai ini. Buku yang
terdiri dari kumpulan tulisan Cak Nun yang pernah tersebar di beberapa surat
kabar dan majalah ini niscaya dapat mencerahkan pikiran dan hati. Tak heran,
karena memang kumpulan tulisannya ini adalah hasil perenungannya yang mendalam
terhadap makna kehidupan. Terutama makna vitalitas atau “semangat hidup” bagi
demokrasi bangsa kita.
Andaipun buku ini berawal dari kegelisahannya, tapi Cak
Nun selalu menawarkan dialog yang merangsang pola pikir, proses dialektika, baik
kepada dirinya sendiri maupun orang lain. Dengan tujuan, menjadi manusia sejati.
Padahal menurutnya, menjadi manusia itu saja ternyata susahnya bukan main
(hal.x). Apalagi menjadi manusia sejati (Indonesia)?
Lepas dari persoalan eksistensialisme tadi, apa pun yang dipaparkan Cak Nun di buku ini tak lain tak bukan adalah refleksinya terhadap berbagai persoalan sosial budaya bangsanya, yang kerap terpasung oleh kebodohan-kebodohan politik. Karena itu, Cak Nun lantas menerjemahkan fenomena-fenomena sosial politik budaya tersebut dengan cara yang mencerahkan. Cerdas, berani, logis dan penuh inspirasi. Kemudian kita pun akan dituntun pula kepada suatu pengertian yang bernama: “Nasionalisme”. Bagaimana mencintai tanah air, dengan gaya kritiknya seorang Kiai mBeling.
“Ada orang mengkritik dan memberi jalan keluar. Ada orang
mengeritik tetapi tak bisa memberi jalan keluar. Ada orang memberi jalan keluar
tanpa mengeritik. Ada orang tidak mengeritik dan tidak memberi jalan keluar,”
demikian tulis Cak Nun (hal.2).
Walhasil, meski pemikiran Cak Nun ini tampak “nakal”, namun
lewat metafora-metafora yang indah itu ia justru menjelaskan makna-makna
kehidupan dengan amat “santun”nya. Bahkan isu-isu politik sosial budaya yang
begitu rumit menjadi dialog yang cerdas, jujur, dan beretika dalam bukunya ini.
Selain itu, dalam menafsirkan arti kebebasan berpikir, Cak
Nun juga mengajarkan bagaimana untuk selalu bersikap arif dan berlaku sabar. Pun
ketahanan hidup dalam keterbatasan sosial politik budaya tadi. Pendek kata, boleh
jadi pemikiran-pemikiran Cak Nun (dalam buku ini) adalah bagian dari rasa
nasionalismenya, yang malah lebih nasionalis ketimbang para elite politik kita yang
“suka bertikai” tersebut. Dan
demi nasionalisme serta cintanya pada tanah airnya, Cak Nun tak butuh “predikat
sosial mewah” apa pun. Paling-paling ia cuma khusyuk sebagai pelayan sosial. Begitupun,
lewat kumpulan tulisannya ini Cak Nun juga tak lupa untuk bersikap, baik terhadap ketidakadilan maupun
situasi sosial politik budaya lainnya.
Pada akhirnya, buku ini amat relevan bila dikaitkan
dengan situasi perpolitikan Indonesia saat ini. Apalagi di tengah gegap
gempitanya Pemilu 2009 nanti. Ibarat kata Cak Nun, “Maka tidak ada agenda apa
pun yang lebih diutamakan dibanding apa pun dalam kehidupan bangsa Indonesia
melebihi agenda politik (hal.73).”
Masalah kepemimpinan, menurut Cak Nun, kita
berlimpah-limpah calon presiden dan pemimpin nasional. Jadi, tak perlu kuatir! Lagipula, Indonesia akan mencapai
kecemerlangannya di tahun 2009 (hal.70)”. Nah, oleh karena tahun 2009 adalah
“tahun pemilu”, boleh jadi apa yang dimaksud Cak Nun tersebut adalah Indonesia cemerlang
dalam soal demokrasi.
Maka seperti pesan Cak Nun, kisah-kisah dalam buku ini (memang
cocok) diperuntukkan bagi siapa saja, aktivis, intelektual, pahlawan, pejuang,
DPR, pemerintah, LSM, ulama, dan siapa saja. Tapi mengenai kisah Pak Kiai yang
sangat fanatik dan cinta sama Ali (petinju legendaris), yang dia sangka Foreman
itulah Ali: Mohon dengan sangat jangan ikuti jejak Pak Kiai tersebut.
Jakarta, Februari 2009
Jakarta, Februari 2009

Luarbiasa memukau resensi ini, sehingga saya menjadi sangat ingin untuk segera membaca buku-buku Cak Nun.. Lalu dimana bisa mendapatkan buku ini Pak Joe Chanmalay, sebab saya ingin segera "dapat mencerahkan pikiran dan hati" melalui karya-karya Cak Nun ini...(~_~)
BalasHapusKewren, Terus menulis adan berimajinasi. Asah nurani untuk dikenang anak cucu kelak
BalasHapus