Kamis, 06 September 2012

NASIONALISME PAK KIAI



Oleh: Juhendri Chaniago

Judul : Jejak Tinju Pak Kiai
Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tahun: III, November 2008
Tebal: xvi + 240 halaman
Harga: Rp 45.000,-



Mengutip pendapat Ary Ginanjar Agustian, pendiri konsep ESQ itu, bahwa Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun adalah seorang pemikir yang melihat dunia dengan kejernihan mata hati, berbicara melalui lidah hati dan mendengar suara alam yang berbunyi. Sehingga ia menjuluki Cak Nun ini sebagai “Si Matahari Pagi”.
Maka demikian pulalah kesan yang muncul saat kita membaca buku Jejak Tinju Pak Kiai ini. Buku yang terdiri dari kumpulan tulisan Cak Nun yang pernah tersebar di beberapa surat kabar dan majalah ini niscaya dapat mencerahkan pikiran dan hati. Tak heran, karena memang kumpulan tulisannya ini adalah hasil perenungannya yang mendalam terhadap makna kehidupan. Terutama makna vitalitas atau “semangat hidup” bagi demokrasi bangsa kita.
Andaipun buku ini berawal dari kegelisahannya, tapi Cak Nun selalu menawarkan dialog yang merangsang pola pikir, proses dialektika, baik kepada dirinya sendiri maupun orang lain. Dengan tujuan, menjadi manusia sejati. Padahal menurutnya, menjadi manusia itu saja ternyata susahnya bukan main (hal.x). Apalagi menjadi manusia sejati (Indonesia)?

Lepas dari persoalan eksistensialisme tadi, apa pun yang dipaparkan Cak Nun di buku ini tak lain tak bukan adalah refleksinya terhadap berbagai persoalan sosial budaya bangsanya, yang kerap terpasung oleh kebodohan-kebodohan politik. Karena itu, Cak Nun lantas menerjemahkan fenomena-fenomena sosial politik budaya tersebut dengan cara yang mencerahkan. Cerdas, berani, logis dan penuh inspirasi. Kemudian kita pun akan dituntun pula kepada suatu pengertian yang bernama: “Nasionalisme”. Bagaimana mencintai tanah air, dengan gaya kritiknya seorang Kiai mBeling.
“Ada orang mengkritik dan memberi jalan keluar. Ada orang mengeritik tetapi tak bisa memberi jalan keluar. Ada orang memberi jalan keluar tanpa mengeritik. Ada orang tidak mengeritik dan tidak memberi jalan keluar,” demikian tulis Cak Nun (hal.2).   
Walhasil, meski pemikiran Cak Nun ini tampak “nakal”, namun lewat metafora-metafora yang indah itu ia justru menjelaskan makna-makna kehidupan dengan amat “santun”nya. Bahkan isu-isu politik sosial budaya yang begitu rumit menjadi dialog yang cerdas, jujur, dan beretika dalam bukunya ini.
Selain itu, dalam menafsirkan arti kebebasan berpikir, Cak Nun juga mengajarkan bagaimana untuk selalu bersikap arif dan berlaku sabar. Pun ketahanan hidup dalam keterbatasan sosial politik budaya tadi. Pendek kata, boleh jadi pemikiran-pemikiran Cak Nun (dalam buku ini) adalah bagian dari rasa nasionalismenya, yang malah lebih nasionalis ketimbang para elite politik kita yang “suka bertikai” tersebut. Dan demi nasionalisme serta cintanya pada tanah airnya, Cak Nun tak butuh “predikat sosial mewah” apa pun. Paling-paling ia cuma khusyuk sebagai pelayan sosial. Begitupun, lewat kumpulan tulisannya ini Cak Nun juga tak lupa untuk  bersikap, baik terhadap ketidakadilan maupun situasi sosial politik budaya lainnya.
Pada akhirnya, buku ini amat relevan bila dikaitkan dengan situasi perpolitikan Indonesia saat ini. Apalagi di tengah gegap gempitanya Pemilu 2009 nanti. Ibarat kata Cak Nun, “Maka tidak ada agenda apa pun yang lebih diutamakan dibanding apa pun dalam kehidupan bangsa Indonesia melebihi agenda politik (hal.73).”
Masalah kepemimpinan, menurut Cak Nun, kita berlimpah-limpah calon presiden dan pemimpin nasional. Jadi, tak perlu kuatir! Lagipula, Indonesia akan mencapai kecemerlangannya di tahun 2009 (hal.70)”. Nah, oleh karena tahun 2009 adalah “tahun pemilu”, boleh jadi apa yang dimaksud Cak Nun tersebut adalah Indonesia cemerlang dalam soal demokrasi.
Maka seperti pesan Cak Nun, kisah-kisah dalam buku ini (memang cocok) diperuntukkan bagi siapa saja, aktivis, intelektual, pahlawan, pejuang, DPR, pemerintah, LSM, ulama, dan siapa saja. Tapi mengenai kisah Pak Kiai yang sangat fanatik dan cinta sama Ali (petinju legendaris), yang dia sangka Foreman itulah Ali: Mohon dengan sangat jangan ikuti jejak Pak Kiai tersebut.

Jakarta, Februari 2009




2 komentar:

  1. Luarbiasa memukau resensi ini, sehingga saya menjadi sangat ingin untuk segera membaca buku-buku Cak Nun.. Lalu dimana bisa mendapatkan buku ini Pak Joe Chanmalay, sebab saya ingin segera "dapat mencerahkan pikiran dan hati" melalui karya-karya Cak Nun ini...(~_~)

    BalasHapus
  2. Kewren, Terus menulis adan berimajinasi. Asah nurani untuk dikenang anak cucu kelak

    BalasHapus