Selasa, 04 September 2012

“SI GENDUT YANG INDAH”

Oleh : Juhendri Chaniago

Judul              : Metamorfosis Gendis
Penulis            : Butet Benny Manurung
Penerbit          : Easymedia, Kelompok Penerbit Leutika, Yogyakarta
Cetakan          : Pertama, Maret 2010
Halaman         : x + 158 Halaman

Konon, ada satu hal yang kerap “ditakuti” oleh kaum wanita, sebab hal ini akan membuat mereka kelihatan tidak menarik, bahkan tidak percaya diri. Apalagi ada anggapan bahwa lelaki cenderung tertarik kepada wanita secara visual, seperti berwajah cantik dan bertubuh seksi. Sehingga wajarlah kalau seorang wanita akan berusaha kelihatan menarik secara fisik di hadapan lawan jenisnya ketimbang menunjukkan sisi kecerdasan otaknya. Lantas apakah hal yang ditakuti wanita tersebut? Kelebihan berat badan, alias gendut! Bukankah bertubuh gendut secara fisik akan membuat wanita mempunyai masalah dengan kepercayaan dirinya?
Nah, dalam novel remaja “Metamorfosis Gendis” karya Butet Benny Manurung ini, persoalan seperti itu akan dibicarakan secara segar dan menarik, dengan dialog-dialog remaja ‘kota’ (dengan setting Jakarta dan Medan) yang terkadang agak kenes.
Adalah Gendis, seorang siswi SMA Tunas Bangsa (kemudian pindah sekolah di St. Thomas) yang naif yang punya problem dengan kelebihan berat badannya, sehingga terkadang ia pun merasa gagal mengaktualisasikan dirinya lewat kecerdasan “otak encer”nya. 

Mulanya persoalan gendut ini belum menjadi hal penting bagi Gendis. Baik ketika ia kerapkali diolok-olok manja oleh Agnes, kakaknya, maupun oleh teman-teman sekolahnya. Namun ketika cinta mulai tumbuh dan mempersoalkan fisik, bukan otak, maka Gendis pun mulai gelisah.
Cintanya pada Bimo, teman sekelasnya—yang justru diekploitasi oleh Bimo sebagai cara untuk menjiplak PR sekolahnya—merupakan awal kegelisahan tersebut. Bahkan kegelisahan itu pun pada akhirnya menimbulkan luka di hatinya. Dari sini mulailah terjalin kisah unik tentang niat Gendis untuk mempermasalahkan berat badannya. Ya, ia ingin bermetamorfosis seperti kupu-kupu cantik, agar tak diremehkan oleh Bimo atau lelaki lainnya. Maka ketika ia membaca sebuah artikel tentang “Jurus Diet dan Cantik yang Paling Efektif”, ia pun lantas mempraktekkannya dengan antusias. Meski kemudian, ia kewalahan sendiri dengan “jurus-jurus” diet tersebut, tapi ia tak putus harapan.
Tekad Gendis pun makin kuat manakala ia kedatangan Tante Grace-nya yang dulu gendut tiba-tiba berbodi yahud bak model. Gendis pun tergelitik untuk mencobanya. Lantas ikutlah ia ke Medan bersama tantenya, dengan tujuan akan bermetamorfosis. Sampai suatu ketika ia mengenal David, lelaki yang penuh perhatian menemaninya menjalankan segala proses metamorfosisnya. Seperti kata Tante Grace, cinta memang dapat membuat perubahan, dan Gendis perlahan-lahan mulai berubah seiring cintanya yang bersemi kepada David. Layaknya kupu-kupu, ia pun hadir dengan fisik baru yang memikat. Berat tubuhnya melorot, dari 101 kg menjadi 56 kg.
Ternyata kebahagiaan Gendis pun tak berlangsung lama. Ada kenyataan pahit yang harus ditelan Gendis sebagai remaja belia, bahwa cinta tak berpihak padanya. Di satu sisi ia berhasil dalam program dietnya, tapi di sisi lain ia harus kehilangan cintanya. Demikianlah, ketika cinta mulai tumbuh maka akan muncul pula ketidak-pastian. 
David ternyata adalah lelaki suruhan tantenya. David dibayar untuk setiap program penurunan berat badan Gendis. Di sini timbul konflik batin Gendis yang lalu bertekad untuk gendut lagi. Sebab baginya apalah arti punya fisik cantik kalau ia harus tersakiti oleh cinta “pangeran”nya. Ia pun berusaha untuk makan banyak lagi. Naif, memang. Lantas apakah Gendis benar-benar menjadi gendut lagi? Dan kepada siapakah cinta Gendis harus diberi?

*

Tiap orang akan mengalami fase perubahan. Hanya saja, perubahan yang bagaimana yang diinginkan, itu merupakan pilihan. Kalau perubahan dari hal baik menjadi buruk maka celakalah ia. Nah, dalam novel “Metamorfosis Gendis” ini, seorang remaja belia seperti Gendis mencoba menata pilihan hidupnya. Walaupun sebenarnya kita sedang disuguhi cerita menarik tentang perubahan fisik seorang Gendis yang problematis. Baik pergolakan batinnya sebagai remaja yang mulai mengenal cinta maupun soal perubahan fisiknya. Meskipun demikian, perubahan Gendis yang lebih bijak dalam menyikapi fisiknya itu lebih menarik.
Selain itu, dalam novel ini terkandung pula pesan bahwa fisik yang cantik itu tak selalu sebanding dengan kecerdasan otak. Seperti Agnes, kakak Gendis, yang diceritakan sebagai sosok wanita cantik tapi kurang berprestasi dalam pendidikannya. Jadi ada pesan bahwa tak selamanya kecantikan fisik menjadi tolok-ukur kecerdasan seseorang.
Sekadar ilustrasi, ada anekdot tentang Albert Einsten dengan seorang gadis cantik, tapi bodoh. Ketika bertemu dengan Einstein, berkatalah sang gadis: “Mas Einstein, kalau aku menjadi istrimu, tentu anak kita akan sepintar kamu dan secantik aku. Benar, kan?” Apa jawab Einstein? “Tidak! Yang kutakutkan adalah, jeleknya seperti aku, bodohnya seperti kamu.” Nah, anekdot di atas amat relevan kalau kita kaitkan dengan novel Metamorfosis Gendis ini sebagai problem remaja masa kini, yang selalu menganggap kecantikan fisik lebih unggul ketimbang kecerdasan (emosional). Sehingga ada ungkapan, lebih baik bodoh daripada tidak cantik. Padahal, kecantikan fisik terkadang menjadi dilematis ketika kecerdasan emosional justru tidak terbangun. Ini kalau kita mau merunut teorinya Daniel Goleman tentang kecerdasan emosional.
Nah, kembali mengenai Gendis. Dalam novel ini, ada kecerdasan emosional yang ingin disampaikan penulisnya lewat tokoh Gendis. Gendis yang tidak pendendam meskipun ia suka dipermainkan. Karena toh menjadi manusia yang rendah hati harus bersikap pemaaf. Gendis yang naif, tapi mempunyai sisi emosional yang stabil. Hal yang jarang ditemui dari sikap kebanyakan remaja kita.
Jadi, meskipun disampaikan dalam “bahasa gaul” yang terkesan santai, novel ini cocok untuk memotivasi para remaja dalam berpikir positif tentang cinta, fisik, dan kecerdasan. Tak langsung patah semangat ketika menemukan “kelemahan” fisik, tapi mencoba semampu mungkin untuk bisa menjadi yang terbaik. Meskipun dengan cara yang terkadang naif. Memang, masalah yang kerap dihadapi remaja masa kini, yakni cinta dan pencarian jati diri, baik secara emosional maupun fisik akan selalu menjadi problem menarik. Bahkan tak tertutup kemungkinan untuk menjadi kajian sosiologi.
Selain itu, kisah yang menarik dengan menampilkan setting kota Medan ini, meski tidak dieksplorasi secara utuh, namun semoga dapat memancing minat masyarakat (khususnya remaja Medan) untuk bicara tentang sejarah kotanya. Seperti sekolah St. Thomas yang didirikan Guru Pattimpus (pendiri kota Medan) itu.

*

Sebagai novel remaja, sejatinya cerita ini menarik bukan karena Gendis berhasil dalam proses metamorfosisnya, yakni berhasil menjadi cantik. Tapi karena sisi Gendis yang menjadi lebih arif dalam memilih pujaan hatinya. Sehingga ia memilih Dion yang memang tulus mencintainya. Dion kagum dengan kecerdasan Gendis, dan andai pun Gendis kembali gendut lagi, Dion akan tetap mencintainya. Sebuah ending cerita yang bahagia, selayaknya novel remaja lainnya
Tentu hal menarik lainnya adalah, Gendis justru tak bangga dengan kecantikan yang didapatnya dari proses metamorfosisnya. Bermetamorfosis bagai kupu-kupu memang indah. Tapi kemampuan untuk memaafkan adalah lebih indah lagi. Gendis yang kerap diejek tak membalas dengan makian yang lebih kasar, seperti umumnya sikap remaja kalau diejek dan dimaki, sehingga terjadilah tawuran atau kekerasan apapun namanya. Barangkali itulah pesan moral yang ditangkap pada novel “Metamorfosis Gendis” ini. Menjadi pemaaf manakala dilukai hatinya. Menjadi bijak manakala diberi pilihan. Seperti kata BC Gorbes, (yang dikutip Ary Ginanjar Agustian untuk ESQ): “Ukuran tubuhmu tidak penting; Ukuran otakmu cukup penting; Ukuran hatimu itulah yang terpenting”.


***
           KSI-Medan, Mei 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar