Judul : Metamorfosis
Gendis
Penulis : Butet Benny
Manurung
Penerbit : Easymedia, Kelompok
Penerbit Leutika, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Maret 2010
Halaman : x + 158 Halaman
Konon, ada satu hal yang kerap “ditakuti” oleh
kaum wanita, sebab hal ini akan membuat mereka kelihatan tidak menarik, bahkan
tidak percaya diri. Apalagi ada anggapan bahwa lelaki cenderung tertarik kepada
wanita secara visual, seperti berwajah cantik dan bertubuh seksi. Sehingga
wajarlah kalau seorang wanita akan berusaha kelihatan menarik secara fisik di
hadapan lawan jenisnya ketimbang menunjukkan sisi kecerdasan otaknya. Lantas
apakah hal yang ditakuti wanita tersebut? Kelebihan berat badan, alias gendut!
Bukankah bertubuh gendut secara fisik akan membuat wanita mempunyai masalah
dengan kepercayaan dirinya?
Nah, dalam novel remaja “Metamorfosis Gendis”
karya Butet Benny Manurung ini, persoalan seperti itu akan dibicarakan secara
segar dan menarik, dengan dialog-dialog remaja ‘kota’ (dengan setting Jakarta dan Medan) yang
terkadang agak kenes.
Adalah Gendis, seorang siswi SMA Tunas Bangsa
(kemudian pindah sekolah di St. Thomas) yang naif yang punya problem dengan
kelebihan berat badannya, sehingga terkadang ia pun merasa gagal
mengaktualisasikan dirinya lewat kecerdasan “otak encer”nya.
Mulanya persoalan gendut ini belum menjadi hal penting bagi Gendis. Baik ketika ia kerapkali diolok-olok manja oleh Agnes, kakaknya, maupun oleh teman-teman sekolahnya. Namun ketika cinta mulai tumbuh dan mempersoalkan fisik, bukan otak, maka Gendis pun mulai gelisah.
Cintanya pada Bimo, teman sekelasnya—yang justru
diekploitasi oleh Bimo sebagai cara untuk menjiplak PR sekolahnya—merupakan
awal kegelisahan tersebut. Bahkan kegelisahan itu pun pada akhirnya menimbulkan
luka di hatinya. Dari sini mulailah terjalin kisah unik tentang niat Gendis
untuk mempermasalahkan berat badannya. Ya, ia ingin bermetamorfosis seperti
kupu-kupu cantik, agar tak diremehkan oleh Bimo atau lelaki lainnya. Maka
ketika ia membaca sebuah artikel tentang “Jurus Diet dan Cantik yang Paling
Efektif”, ia pun lantas mempraktekkannya dengan antusias. Meski kemudian, ia
kewalahan sendiri dengan “jurus-jurus” diet tersebut, tapi ia tak putus
harapan.
Tekad Gendis pun makin kuat manakala ia kedatangan
Tante Grace-nya yang dulu gendut tiba-tiba berbodi yahud bak model. Gendis pun
tergelitik untuk mencobanya. Lantas ikutlah ia ke Medan bersama tantenya,
dengan tujuan akan bermetamorfosis. Sampai suatu ketika ia mengenal David,
lelaki yang penuh perhatian menemaninya menjalankan segala proses
metamorfosisnya. Seperti kata Tante Grace, cinta memang dapat membuat
perubahan, dan Gendis perlahan-lahan mulai berubah seiring cintanya yang
bersemi kepada David. Layaknya kupu-kupu, ia pun hadir dengan fisik baru yang
memikat. Berat tubuhnya melorot, dari 101 kg menjadi 56 kg.
Ternyata kebahagiaan Gendis pun tak berlangsung
lama. Ada kenyataan pahit yang harus ditelan Gendis sebagai remaja belia, bahwa
cinta tak berpihak padanya. Di satu sisi ia berhasil dalam program dietnya,
tapi di sisi lain ia harus kehilangan cintanya. Demikianlah, ketika cinta mulai
tumbuh maka akan muncul pula ketidak-pastian.
David ternyata adalah lelaki suruhan tantenya.
David dibayar untuk setiap program penurunan berat badan Gendis. Di sini timbul
konflik batin Gendis yang lalu bertekad untuk gendut lagi. Sebab baginya apalah
arti punya fisik cantik kalau ia harus tersakiti oleh cinta “pangeran”nya. Ia
pun berusaha untuk makan banyak lagi. Naif, memang. Lantas apakah Gendis
benar-benar menjadi gendut lagi? Dan kepada siapakah cinta Gendis harus diberi?
*
Tiap orang akan mengalami fase perubahan. Hanya
saja, perubahan yang bagaimana yang diinginkan, itu merupakan pilihan. Kalau
perubahan dari hal baik menjadi buruk maka celakalah ia. Nah, dalam novel
“Metamorfosis Gendis” ini, seorang remaja belia seperti Gendis mencoba menata
pilihan hidupnya. Walaupun sebenarnya kita sedang disuguhi cerita menarik
tentang perubahan fisik seorang Gendis yang problematis. Baik pergolakan
batinnya sebagai remaja yang mulai mengenal cinta maupun soal perubahan fisiknya.
Meskipun demikian, perubahan Gendis yang lebih bijak dalam menyikapi fisiknya
itu lebih menarik.
Selain itu, dalam novel ini terkandung pula pesan
bahwa fisik yang cantik itu tak selalu sebanding dengan kecerdasan otak.
Seperti Agnes, kakak Gendis, yang diceritakan sebagai sosok wanita cantik tapi
kurang berprestasi dalam pendidikannya. Jadi ada pesan bahwa tak selamanya
kecantikan fisik menjadi tolok-ukur kecerdasan seseorang.
Sekadar ilustrasi, ada anekdot tentang Albert
Einsten dengan seorang gadis cantik, tapi bodoh. Ketika bertemu dengan
Einstein, berkatalah sang gadis: “Mas Einstein, kalau aku menjadi istrimu,
tentu anak kita akan sepintar kamu dan secantik aku. Benar, kan?” Apa jawab
Einstein? “Tidak! Yang kutakutkan adalah, jeleknya seperti aku, bodohnya
seperti kamu.” Nah, anekdot di atas amat relevan kalau kita kaitkan dengan
novel Metamorfosis Gendis ini sebagai problem remaja masa kini, yang selalu
menganggap kecantikan fisik lebih unggul ketimbang kecerdasan (emosional). Sehingga
ada ungkapan, lebih baik bodoh daripada tidak cantik. Padahal, kecantikan fisik
terkadang menjadi dilematis ketika kecerdasan emosional justru tidak terbangun.
Ini kalau kita mau merunut teorinya Daniel Goleman tentang kecerdasan
emosional.
Nah, kembali mengenai Gendis. Dalam novel ini, ada
kecerdasan emosional yang ingin disampaikan penulisnya lewat tokoh Gendis.
Gendis yang tidak pendendam meskipun ia suka dipermainkan. Karena toh menjadi
manusia yang rendah hati harus bersikap pemaaf. Gendis yang naif, tapi mempunyai
sisi emosional yang stabil. Hal yang jarang ditemui dari sikap kebanyakan
remaja kita.
Jadi, meskipun disampaikan dalam “bahasa gaul”
yang terkesan santai, novel ini cocok untuk memotivasi para remaja dalam
berpikir positif tentang cinta, fisik, dan kecerdasan. Tak langsung patah
semangat ketika menemukan “kelemahan” fisik, tapi mencoba semampu mungkin untuk
bisa menjadi yang terbaik. Meskipun dengan cara yang terkadang naif. Memang,
masalah yang kerap dihadapi remaja masa kini, yakni cinta dan pencarian jati
diri, baik secara emosional maupun fisik akan selalu menjadi problem menarik.
Bahkan tak tertutup kemungkinan untuk menjadi kajian sosiologi.
Selain itu, kisah yang menarik dengan menampilkan setting kota Medan ini, meski tidak
dieksplorasi secara utuh, namun semoga dapat memancing minat masyarakat
(khususnya remaja Medan) untuk bicara tentang sejarah kotanya. Seperti sekolah
St. Thomas yang didirikan Guru Pattimpus (pendiri kota Medan) itu.
*
Sebagai novel remaja, sejatinya cerita ini menarik
bukan karena Gendis berhasil dalam proses metamorfosisnya, yakni berhasil
menjadi cantik. Tapi karena sisi Gendis yang menjadi lebih arif dalam memilih
pujaan hatinya. Sehingga ia memilih Dion yang memang tulus mencintainya. Dion
kagum dengan kecerdasan Gendis, dan andai pun Gendis kembali gendut lagi, Dion
akan tetap mencintainya. Sebuah ending
cerita yang bahagia, selayaknya novel remaja lainnya
Tentu hal menarik lainnya adalah, Gendis justru
tak bangga dengan kecantikan yang didapatnya dari proses metamorfosisnya.
Bermetamorfosis bagai kupu-kupu memang indah. Tapi kemampuan untuk memaafkan
adalah lebih indah lagi. Gendis yang kerap diejek tak membalas dengan makian
yang lebih kasar, seperti umumnya sikap remaja kalau diejek dan dimaki,
sehingga terjadilah tawuran atau kekerasan apapun namanya. Barangkali itulah
pesan moral yang ditangkap pada novel “Metamorfosis Gendis” ini. Menjadi pemaaf
manakala dilukai hatinya. Menjadi bijak manakala diberi pilihan. Seperti kata
BC Gorbes, (yang dikutip Ary Ginanjar Agustian untuk ESQ): “Ukuran tubuhmu
tidak penting; Ukuran otakmu cukup penting; Ukuran hatimu itulah yang
terpenting”.
***
KSI-Medan, Mei 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar